Educational Psychology-3

| | 0 komentar

Anak bisa Depresi?

Apa yang membuat seorang anak mendapatkan satu kondisi dimana dia mengalami gangguan emosional (depresi), apa saja tanda-tandanya, dan hal apa yang dapat dilakukan orangtua atau orang terdekat anak dalam menghadapi keadaan tersebut?

Dari fakta yang ada, depresi tidak hanya terjadi pada orang dewasa, anak-anak juga bisa mengalami depresi.
Secara teori depresi merupakan suatu jenis gangguan mood di mana pengidapnya merasa dirinya tak berharga sama sekali, percaya bahwa keadaan tidak akan pernah membaik, dan tampak lesu dan tidak bersemangat dalam jangka waktu yang lama, atau dapat dikatakan sebagai suatu penyakit dimana perasaan depresi tersebut bertahan dan mengganggu aktifitas dan kemampuan anak.

Ada beberapa tanda-tanda khusus yang dapat dijadikan indikasi anak mengalami kecenderungan depresi, antara lain:
• Anak terlihat penuh kesedihan, tangis terus menerus dan kesedihan persisten.
• Kurangnya antusiasme atau motivasi (penurunan minat dalam berbagai kegiatan, atau ketidakmampuan untuk menikmati kegiatan favorit sebelumnya).
• Meningkatnya kemarahan.
• Kelelahan kronis atau kekurangan energi.
• Menarik diri dari keluarga, teman dan aktivitas yang tadinya disukai.
• Perubahan kebiasaan makan dan tidur (adanya kenaikan atau penurunan berat tubuh yang terlihat jelas, suka sekali tidur, sulit tidur).
• Keluhan yang sangat sering mengenai masalah fisik, seperti sakit perut atau pusing.
• Kurangnya konsentrasi dan suka lupa.
• Perasaan tidak berharga atau perasaan bersalah yang berlebihan.
• Sensitifitas berlebihan sampai penolakan atau kegagalan.
• Perkembangan mayor yang tertunda (pada balita – tidak berjalan, berbicara atau mengekspresikan diri ).
• Bermain yang melibatkan kekerasan, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain, atau dengan tema yang sedih.
• Seringnya muncul pembicaraan mengenai kematian atau bunuh diri.

Secara umum, depresi dapat terjadi oleh beberapa faktor, jika ditinjau dari sudut pandang orang dewasa dpresi sering muncul dari permasalahan hubungan sosial atau keluarga, pekerjaan, dan sebagainya. Seorang profesor Herbert Scheithauer di Free University of Berlin, telah melakukan riset pada anak-anak yang depresi, dan dia menyimpulkan bahwa perkembangan depresi kebanyakan berkaitan dengan lingkungan sosial mereka. Peristiwa kritis dalam kehidupan mereka terjadi pada 70 persen anak-anak yang mengalami penyakit-penyakit akibat depresi.
Faktor-faktor yanag dapat dikategorikan sebagai penyebab anak dalam kondisi depresi adalah faktor sosial dimana anak mengalami permasalahan di dalam keluarga, yaitu kehilangan orang tua, ketidakharmonisan dengan orang tua, dan perceraian. Anak-anak tampak tidak dapat melakukan penyesuaian dengan baik pada perubahan yang terjadi dalam lingkungan mereka, misalnya seperti perceraian atau pasangan baru dari kedua orang tua mereka.
Faktor lingkungan yang membuat anak-anak berisiko menderita gangguan depresi meliputi pelecehan fisik, seksual, dan verbal, anak yang terlantar dan adanya sejarah pemakaian obat-obatan dalam keluarga.
Meskipun seorang anak masih dikatagorikan sebagai balita, emosinya sangatlah nyata. Para ahli percaya bahwa makin banyak orang tua memberi perhatian pada perasaan anaknya, maka makin baiklah kemampuannya untuk mencari bantuan pada depresi. "Jika seorang anak mengatakan, ‘saya sangat sedih dan ingin lompat dari jendela’, sebaiknya orangtua atau siapapun di lingkungannya, memandang perkataan ini secara serius, " kata Rody, seorang psikiater asal New Jersey, memperingatkan.
Hal awal yang khususnya oleh orangtua dapat lakukan, untuk mengetahui penyebab kesedihan seorang anak :
  • Apa yang terjadi hari ini sehingga kamu sangat sedih?
  • Apa yang membuat kamu bahagia?
  • Apa sih yang kamu cari?
  • Apa yang kamu inginkan terjadi padamu?
  • Jika kamu dapat mengubah dirimu, apa yang ingin kamu ubah?
Perawatan khusus bagi anak yang menderita depresi dapat dilakukan kombinasi dari psikoterapi individu dan konseling keluarga. Dan supaya optimal, terapi haruslah melibatkan orang tua, saudara, dan orang yang penting dalam kehidupan anak, seperti guru dan kakek-neneknya.

Perawatan lainnya meliputi terapi bermain, evaluasi berkelanjutan dan pada beberapa kasus, menggunakan obat. Obat antidepresi seringkali digunakan untuk merawat kasus depresi menengah. Dan yang terpenting ialah belumlah diijinkan untuk memberikan obat antidepresi pada anak di bawah usia 8 tahun. 

Sumber :

Psikologi Pendidikan & Sekolah

| | 0 komentar


Psikologi pedidikan adalah cabang ilmu psikologi yang mengkhususkan diri pada cara memahami pengajaran dan pembelajaran dalam lingkungan pendidikan. Atau secara singkat psikologi pendidikan dapat dikatakan sebagai suatu disiplin ilmu yang mengaplikasikan ilmu psikologi dalam dunia belajar dan mengajar.

Psikologi pendidikan sendiri, merupakan gabungan dari dua konteks bidang studi yang berbeda.
Pertama ialah psikologi yang merupakan suatu kajian ilmiah mengenai perilaku serta proses mental (ilmu yang mempelajari segala sesuatu tentang pikiran dan perilaku manusia serta hubungannya dengan manusia), yang artinya tidak hanya mempelajari manusia dalam kesendiriannya, melainkan juga mempelajari manusia dalam hubungannya dengan manusia lain.
Kedua adalah pendidikan itu sendiri atau lebih khusus adalah sekolah. Jadi, sebagai sebuah subdisiplin ilmu sendiri dalam psikologi, psikologi pendidikan memfokuskan diri pada pemahaman proses pengajaran dan pembelajaran yang mengambil tempat dalam lingkungan, baik itu formal, nonformal, dan informal.
Dalam peranannya, seorang psikolog pendidikan biasa bekerja di lingkungan sekolah dan perguruan tinggi dan dilingkungan pendidikan anak, mengajar, serta melakukan penelitian mengenai pengajaran dan pembelajaran.

Psikologi pendidikan berminat pada teori belajar, metode pengajaran, motivasi, kognitif, emosional, dan perkembangan moral serta hubungan orangtua anak. Selain itu psikologi pendidikan juga mendalami sub-populasi yaitu anak-anak gifted dan yang dengan kebutuhan khusus. Ahli lain menambahkan bahwa psikologi pendidikan berguna dalam penerapan prinsip-prinsip belajar dalam kelas, pengembangan dan pembaruan kurikulum, ujian dan evaluasi bakat dan kemampuan, sosialisasi proses dan interaksi proses itu dengan pendayagunaan kognitif dan penyelenggaraan pendidikan keguruan.
Psikologi pendidikan mengambil masalah-masalah yang dialami oleh orang muda dalam pendidikan yang mencakup masalah kesulitan belajar atau masalah emosi dan sosial. Mereka mengambil tugas untuk membantu proses belajar anak dan memampukan guru menjadi lebih sadar akan faktor-faktor social yang berkatinan dengan pengajaran dan belajar. Mereka dapat bekerja secara langsung dengan anak (misal memeriksa perkembangan, memberikan konseling) dan secara tidak langsung (dengan orang tua, guru dan profesional lainnya). Karena harus bekerja dengan manusia, psikolog pendidikan haruslah familier dengan pendekatan-pendekatan tradisional tentang studi perilaku, humanistik, kognitif dan psikoanalis. Mereka juga harus sadar dengan teori dan riset yang muncul dari ranah tradisional psikologi seperti perkembangan (Piaget, Erikson, Kohlberg, Freud), bahasa (Vygotsky dan Chomsky), motivasi (Hull, Lewin, Maslow, McClelland), testing (intelegensi dan kepribadian) dan interpretasi tesnya.

Psikologi sekolah berusaha menciptakan situasi yang mendukung bagi anak didik dalam mengembangkan kemampuan akademik, sosialisasi, dan emosi, yang bertujuan untuk membentuk “mind set” anak.
Ditinjau dari peranannya, psikolog sekolah pada sekolah dasar atau sekolah menengah pertama misalnya, bertugas mengetes para siswa, kemudian membuat rekomendasi mengenai penempatan pendidikan, dan bekerja dalam tim perencanaan pendidikan.

Karena sama-sama berkecimpung di ranah sekolah, istilah psikologi pendidikan dan psikologi sekolah sering dipertukarkan. Perbedaan paling mendasar ialah terlihat dari peranannya, dimana teoris dan peneliti lebih diidentifikasi sebagai psikolog pendidikan, sementara praktisi di sekolah lebih diidentifikasi sebagai psikolog sekolah.

Sumber :  
Santrock J. W. (2008). Psikologi Pendidikan. Edisi kedua. Jakarta : Prenada Media Group.
King L. A. (2007). Psikologi Umum. Buku 1. Jakarta : Salemba Humanika.

Fenomena Pendidikan di Indonesia

| | 0 komentar

Anggita Windy (10-103)
Christin Siahaan (10-107)
Putri Olwinda (10-121)

Pada kuliah online hari ini yang kami ikuti kami membahas 3 fenomena pendidikan di Indonesia serta mengkaitkannya dengan teori.

Fenomena Pertama
Anak Tidak Mau Sekolah

SUMBER : http://www.psikologizone.com/anak-tidak-mau-sekolah
pada artikel ini, diceritakan bahwa ada seorang anak bernama Reza yang baru beberapa hari tahun ajaran sekolah dimulai, Reza tiba-tiba saja mogok sekolah. Ketika ditanya masalahnya, ia emoh cerita. Esoknya, Sang Ibu mengetahui dari teman sekelas Reza, kalau kemarin Reza baru dimarahi gurunya karena lupa membawa buku tugas.Kategori usia anak yang suka melakukan mogok sekolah adalah anak-anak yang masih sekolah di tingkat playgroup , TK, atau SD

Penyebab Reza mogok Sekolah atau anak-anak lain mogok sekolah bisa diakibat oleh dua faktor yaitu Internal dan Eksternal. Internal sendiri berupa itu biasanya ada di dalam diri Si Anak (berhubungan dengan karakteristik anak), situasi rumah, dan merasa cemas karena harus berpisah dengan salah satu orang terdekatnya (separation anxiety ), seperti ibu atau pengasuhnya. kalau faktor eksternalnya sendiri berupa Sedang faktor penyebab eksternal, lebih ke masalah lingkungan sekolah yang membuatnya merasa tidak nyaman. Misalnya, ternyata mainan di rumahnya lebih banyak dan menarik dibanding di sekolah, teman-teman di sekolah suka mengisenginya (bully ), anak susah beradaptasi dengan lingkungan sekolah, atau gurunya galak.
Dalam kasus ini sendiri kita bisa lihat yang lebih banyak berpengaruh adalah karena faktor eksternal yaitu dari kondisi lingkungannya lebih tepatnya karena faktor si guru.
Dari permasalahan ini, kelompok kami menggunakan Pendekatan Learning yaitu Classical Conditioning. Dimana pada kasus ini yang berperan sebagai UCS nya sekolah UCS nya guru galak/kritik guru dan UCRnya anak takut atau cemas dan kemudia CSnya adalah sekolah. dimana nantinya UCS dan CS diberikan secara bersama-sama sehingga menghasilkan CR berupa anak takut atau dengan kata lain, hanya dengar sekolah aja dia langsung gak mau sekolah karena pemberian stimulus antara guru galak dan sekolah tadi diberikan secara bersama-sama, tanpa ditampilkan wujud sang guru dia langsung cemas dan takut kalau disebutkan sekolah.
Teori Bimbingan Orangtua
Bimbingan orangtua sangat dibutuhkan pada kasus ini agar semnagat belajar anak tambah tinggi. dimana Keluarga menjadi tempat pertama pertumbuhan dan perkembangan yang sangat menentukan perannya.
Menurut Kartono (1991;63) bahwa "Orang tua merupakan orang pertama dan utama yang mampu, serta berhak menolong keturunannya dan mendidik anaknya". Orang tua peranannya dalam keluarga dan dapat menciptakan ikatan emosianal dengan anaknya, menciptakan suasana aman dirumah sehingga orang tua/rumah merupakan tempat anak untuk kembali, menjadi contoh/model bagi anaknya, memberikan disiplin dan memperbaiki tingkah laku anak, menciptakan jaringan komunikasi diantara anggota keluarga.
Pengawasan dan bimbingan orang tua dirumah mutlak diperlukan karena adanya bimbingan, orang tua dapat mengawasi dan dapat mengetahui segala kekurangan dan kesulitan anak dalam belajarnya. Gunarso (1983;64) menyatakan sebagai berikut :
"Orang tua berperan besar dalam mengajar, mendidik, memberikan bimbingan, dan menyediakan sarana belajar serta memberi teladan pada anak sesuai dengan nilai moral yang berfaku atau tingkah laku yang perlu dihindari".
Bimbingan dari orang tua dapat juga berperan sebagai cara untuk peningkatan disiplin terutama dalam belajarnya. Ahmadi (1991;82) menyatakan bahwa "Anak belajar memerlukan bimbingan dari orang tua agar sikap dewasa dan tanggung jawab belajar tumbuh pada diri anak".
Pada kasus ini solusi yang tepat bisa dilakukan adalah :
1. jangan omelin anak,,, kalau orangtua semakin omelin anak, yang dah anak menjadi lebih takut dan cemas
2. berikan dia semngat : Ketika anak bisa menguasai rasa takutnya dan mau sekolah lagi, usahakan selalu memberikan mereka pujian kasih sayang, bukan hadiah barang karena yang dibutuhkan adalah dukungan mental. Hadiah “verbal” ini misalnya seperti, “Mama bangga hari ini kamu enggak nangis.” Setiap kemajuan, sekalipun kecil, harus tetap dihargai. Meskipun esoknya Si Anak menangis lagi, ya tidak apa-apa, orang tua tetap harus sabar. Orangtua tetap harus membesarkan hatinya secara verbal, “Ayo, kamu pasti bisa!” Ingat, semangat itu mampu menumbuhkan motivasi anak.
Nah, dengan menyadari permasalahan anak, Anda bisa berpikir jernih membantu setiap masalahnya.
3. Bicara Dua Arah Jika memang masalahnya bukan karena separation anxiety , ajaklah ia berkomunikasi agar bisa mengindentifikasi perasaan anak. Usahakan diskusi dilakukan dari hati ke hati, dua arah, dan dengan menekankan mengapa anak mogok sekolah.
Dengan mengetahui masalahnya, Si Anak merasa orang tua mau mengerti dan orang tua juga tahu seperti apa sudut pandang anak.
Menyiapkan mental anak adalah yang terpenting. Orang tua jangan pernah lelah menyemangati anak berulang-ulang. Semangat itu bisa mengubah rasa takut anak menjadi motivasi positif baginya.

Fenomena Kedua
http://edukasi.kompas.com/read/2010/04/22/09451015
pada artikel ini meceritakan Rawan pangan akibat kekeringan tidak hanya menimbulkan masalah gizi buruk pada anak-anak di bawah usia 5 tahun di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, tetapi juga mengancam kelancaran pendidikan. Ratusan anak usia sekolah di daerah itu terancam putus sekolah karena ketiadaan biaya.
Gagal panen tahun ini membuat orangtua tidak punya pilihan lain selain memberhentikan anak-anak mereka dari pendidikan tingkat SD, SLTP, dan SLTA. Sejumlah orangtua juga memilih mengistirahatkan anak mereka di rumah sambil membantu mereka karena sekolah jauh dari permukiman dan mereka tak memiliki biaya transportasi.Kepala Dusun Kamaru, Desa Tanamana, Kecamatan Pahunga Lodu, Hamana Remang, Senin (19/4/2010), mengatakan, sebelum kasus ancaman rawan pangan di desa itu, kasus putus sekolah di daerah itu sudah cukup tinggi. Saat ini, anak-anak SD di Dusun Kamaru mulai kendur semangat belajarnya karena banyak yang pergi ke sekolah berjalan kaki berkilometer jauhnya, tanpa diberi makan dari rumah.
Tiga siswa kelas II SLTA yang sekolah di Waingapu pun dalam satu bulan ini berada di dusun dengan alasan tak ada biaya makan, minum, dan kebutuhan lain. Saat Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono berkunjung ke Desa Hambapraing, Kecamatan Kanatang, Sumba Timur, Sabtu pekan lalu, Yustina Kongawardan (15) menceritakan kegalauannya karena tak bisa melanjutkan sekolah.

Teori pendidikan
Pendekatan Motivasi, ekstrinsik dan intrinsik, dimana Motivasi ekstrinsik merupakan suatu dorongan dari luar terhadap tujuan pribadi seseorang, sedangkan Motivasi intrinsik merupakan dorongan dari dalam atau keinginan dari dalam diri terhadap tujuan pribadinya sendiri.
Sebagai contoh dari artikel diatas, anak-anak yang berada dikeluarga dengan ekonomi kebawah tidak bisa dan bahkan tidak mendapatkan perhatian penuh dari orangtuanya untuk memperoleh pendidikan yang seharusnya. Alasannya, selain karena ekonomi rendah, berupa motivasi ekstrinsik, yang mana orangtua tidak menyanggupi anaknya untuk sekolah karena lebih baik anak itu membantu mereka, orangtunya, bekerja dirumah, padahal memungkinkan untuk anak itu memiliki motivasi intrinsik, yang mana keinginan yang kuat untuk mendapatkan pendidikan dan juga motivasi intrinsik dimana anak kasihan melihat orangtuanya bekerja sendiri, dan dengan segera tertutupi oleh keinginan orangtua yang lebih menyanggupi anak tersebut untuk ikut membantu membantu mereka bekerja.

Fenomena Ketiga.
Minat orangtua untuk memasukkan anaknya ke pendidikan anak usia dini, termasuk ke ke kelompok bermain dan taman kanak-kanak atau TK, cenderung meningkat. Fenomena ini menunjukkan semakin tingginya kesadaran orangtua untuk memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak-anaknya yang berada pada usia emas, 0-6 tahun.
Mudjito AK, Direktur Pembinaan SD dan TK Departemen Pendidikan Nasional di Jakarta, Selasa (4/11), mengatakan, saat ini dari sekitar 28,24 juta anak usia 0-6 tahun, sekitar 11 juta anak atau 42,3 persen di antaranya sudah mengikuti pendidikan anak usia dini (PAUD) formal maupun non-formal. Jumlah ini meningkat dibandingkan dengan tahun 2004 yang baru mencapai sekitar 39 persen.
Dari sekitar 11 juta anak yang mengikuti PAUD, sekitar 4,2 juta anak dilayani di jenjang TK/ raudhatul athfal (RA) atau PAUD formal, sedangkan 6,8 juta anak lainnya mengikuti pendidikan di PAUD nonformal.
Mudjito mengatakan, perluasan akses anak-anak usia TK dilakukan dengan menyediakan TK di setiap kecamatan atau menyelenggarakan TK di SD yang sudah ada bangunannya. Dengan demikian, SD dan TK diselenggarakan dalam satu atap. Dikembangkan pula PAUD nonformal di tingkat RT atau RW.


Berdasarkan teori bimbingan sekolah, "School counseling is one area where assessments and increasing accountability is helping to create a more progressive educational environment"
maksudnya teori ini setuju dengan tindakan orangtua yg memiliki minat kuat memasukkan anak dalam area pendidikan sekolah sejak dini sekali, namun dalam konteks yang positif, tidak mengejar target terhadap anak, tidak menjadikan anak sesuai dengan apa yang orang tua inginkan.
contohnya dari artikel diatas, orang tua memasukkan anak ke sekolah sejak dini adalah sebuah dampak positif dari orang tua dalam pendidikan anak selanjutnya.

Referensi pembahasan:

Santrock., J.W. (2008). Psikologi Pendidikan (edisi kedua). Jakarta: Prenada Media Group
http://heru-id.blogspot.com/2010/02/teori-tentang-bimbingan-orang-tua.html
http://www.school-counselor.org/topics.html
 

BEBERAPA HAL MENGENAI "SAHABAT"

| | 12 komentar



ULASAN SINGKAT
·         Sahabat tidak akan membiarkanmu merusak diri sendiri. Dia senantiasa memiliki waktu untuk mendengarkan masalah-masalahmu dan memberikan nasihat terbaik. Dia bisa bersikap terbuka dan apa adanya di dekatmu. Tidak merasa segan untuk menerima saranmu. Tidak akan pernah mencoret namamu.
·         Sahabat akan selalu menepati janji, bicara jujur, meluangkan waktu untukmu, dan bisa tertawa bersamamu.
·         Seorang sahabat akan tahu apa yang ingin kamu katakan, meski kamu tidak mengucapkannya. Memahami perasaanmu, meski kamu sendiri tidak bisa memahaminya. Dia akan selalu memaafkanmu, biasanya sebelum kamu sendiri bisa memafkan dirimu sendiri.
·         Seorang sahabat bersedia menolongmu tanpa pamrih. Dia mau datang menyemangatimu saat kamu bertanding dan mau berusaha berkorban untukmu.
·         Seorang sahabat akan selalu mengatakan penampilanmu bagus—meski sebenarnya tidak. Dia akan memberitahukan kalau ada sesuatu yang terselip di gigimu.
·         Seorang sahabat tidak bicara yang jelek tentangmu.
·         Seorang sahabat meletakkanmu di tempat yang istimewa di hatinya.
·         Seorang sahabat tidak akan menertawakanmu saat kamu berbuat bodoh. Bersedia menemanimu sepulang sekolah, untuk membantumu menyelesaikan hukuman menulis dua ratus lima puluh baris.
·         Seorang sahabat adalah orang yang bisa kamu hormati, menghormatimu, dan mau berbagi perasaan denganmu.
·         Seorang sahabat membuatmu nyaman dengan dirimu sendiri. Mendorongmu untuk meraih cita-citamu sendiri, tak pernah iri kepadamu.
·         Seorang sahabat akan senantiasa mendampingimu dalam suka dan duka.
·         Seorang sahabat tidak akan melanggar janjinya untuk tidak membuka rahasiamu. Dia tidak membicarakanmu pada teman-teman yang lain.
·         Seorang sahabat akan selalu berpihak padamu, saat kamu merasa seluruh dunia menentangmu.
·         Seorang sahabat akan selalu membuka pintu untukmu, walau hari sudah larut malam. Dia tidak pernah menghianatimu dan akan membantumu mendapatkan teman-teman baru.
·         Seorang sahabat akan selalu memaafkanmu setelah bertengkar.
·         Seorang sahabat bersedia membagi makan siangnya denganmu kalau kamu lupa membawanya.
·         Seorang sahabat tidak akan ikut tertawa kalau ada yang membuat lelucon jahat tentangmu.
·         Seorang sahabat menyukaimu sebagaimana adanya, bukan karena penampilanmu, sebab itulah yang paling penting.
·         Seorang sahabat tidak akan pernah menertawakan apapun yang kamu miliki dan kamu lakukan.
·         Seorang sahabat tidak akan mementingkan kecantikan ataupun popularitas, melainkan menyukaimu karena kepribadianmu, dan akan mendampingimu hingga akhir.
·         Seorang sahabat tidak akan selalu berpikir sama seperti dirimu. Dia akan mengadukanmu bila kamu memakai obat bius atau merokok dan akan menegurmu baik-baik bila kamu berbuat salah.
·         Seorang sahabat adalah orang yang dipercayai juga oleh ibumu.
·         Seorang sahabat tidak akan takut dilihat bersamamu. Dia juga akan tertawa mendengar leluconmu—meski tidak lucu.
·         Seorang sahabat tidak akan pernah melimpahkan kesalahannya kepadamu.
·         Seorang sahabat akan bersedia membagi potongan roti terakhirnya padamu.
·         Seorang sahabat akan selalu percaya padamu, ketika orang lain tidak mempercayaimu.
CERITA SINGKAT
            Kehidupan para tawanan dalam sebuah penjara pada masa perang dunia kedua sangat memprihatinkan. Setiap hari mereka harus membangun benteng pertahanan musuh dimana mereka ditawan. Tidak jarang, beberapa tawanan meninggal dunia karena pekerjaan yang terlalu berat dan tidak sebanding dengan jadwal istirahat serta gizi yang mereka peroleh.
Suatu ketika, secara mendadak para tawanan dibariskan dilapangan penjara. Ternyata saat itu kepala penjara memperoleh laporan bahwa ada dua parang yang hilang dari gudang penyimpanan. Penjaga dengan suara lantang mengatakan bahwa barangsiapa yang mengambil parang tersebut tidak mengaku, maka semua tawanan dalam penjara tersebut akan ditembak mati. Melihat keseriusan kepala penjara tersebut, semua tawanan pun takut. Apalagi mereka mulai disusun barisannya layaknya akan dihukum mati. Dalam suasana hening dan penuh ketegangan, tiba-tiba dari barisan belakang muncul seorang tawanan yang sudah agak tua dan pincang. Tawanan itu melangkah dengan pasti menuju ke depan dan mengaku bahwa dialah yang telah membuat parang tersebut hilang. Banyak tawanan lain seakan tidak percaya dengan pengakuan pria tua itu, mengingat selama ini dia dikenal sebagai orang yang saleh. Bahkan sebagian besar tawanan sudah menganggapnya sahabat dan bahkan sebagai guru.
Begitu pria tua itu maju ke depan, kepala penjara dengan seketika mencabut pistolnya dan menembakkannya ke kepala tawanan tua itu hingga tewas. Baginya, kepala penjara, menggelapkan parang sama dengan menggelapkan senjata untuk melawan dan melarikan diri. Beberapa hari setelah peristiwa tersebut, kepala penjara memperoleh laporan dari staf penyimpanan bahwa jumlah parang sebenarnya tetap sama. Hanya saja telah terjadi kesalahan hitung. Berita ini pun dengan cepat tersebar ke seluruh penjara. Akibatnya, ketika mendengar berita itu solidaritas dikalangan tawanan mulai meningkat. Secara tidak langsung, rasa solidaritas itu juga telah memompa optimisme dan menumbuhkan harapan akan hari depan. Mesipun saat ini mereka tidak berdaya, tetapi mereka yakin bahwa penderitaan itu pasti ada akhirnya. Dan dengan kata lain, tawanan tua yang telah mengorbankan diri tersebut membawa pengaruh positif bagi tawanan yang masih hidup.

UNGKAPAN SINGKAT
Kapan pun dan dimana pun saya berada, yang terpenting bukanlah seberapa berhasil saya mencari sahabat seturut keterangan diatas, namun seberapa berhasil saya menjadi diri saya sendiri dan menjadi sahabat bagi teman-teman saya. 
Sahabat saya : Psikologi 2010


Penggunaan Email & Blog

| | 0 komentar

Nama kelompok :
10103 Anggita Windy
10107 Christin Siahaan
10121 Putri Olwinda

Penggunaan email dan blog merupakan salah satu contoh metode proses pembelajaran yang cukup efektif. Tidak hanya mempunyai dampak positif bagi para pendidik, tetapi juga berdampak positif untuk murid itu sendiri. Sebagai contoh, dengan adanya email dan blog, suasana dalam proses pembelajaran akan berganti, yang tadinya suasana belajar bersifat monoton dimana semuanya hanya tertuju bahwa belajar itu dilakukan hanya didalam kelas dan juga kita hanya terpaku bahwa guru adalah satu-satunya yang mempunyai ilmu pengetahuan, menjadi tidak monoton atau menjadi lebih aktif.

Adanya hal itu, menunjukkan bahwa guru benar-benar mempunyai kreativitas dalam pemilihan sistem pengajaran, guru memberikan kesempatan kepada siswanya, untuk berkembang, bukan hanya berkembang dalam intelektual tetapi juga berkembang dalam skill mempergunakan teknologi yang bisa dikatakan sudah sangat berkembang. Hal itu nantinya akan mempersiapkan diri si anak murid untuk mencari pekerjaan dimasa depan, yang membutuhkan keahlian teknolgi dan keahlian berbasis teknologi. Guru memberikan kesempatan kepada si murid untuk mengeksplorasi dunia, untuk mendapatkan informasi-informasi dari berbagai negara, dengan menggunakan email dan blog murid-murid dapat berkomunikasi dengan murid-murid lain dari sekolah lain yang berada di negara bagian atau negara lainnya, mereka bisa saling berbagai informasi yang berkaitan dengan pendidikan.

Email dan blog juga memberikan dampak yang sangat positif bagi murid-murid yang pasif dalam kegiatan pembelajaran pada saat tatap muka, yang mungkin mereka sendiri memiliki potensi positif lain dalam berkarya, yang seutuhnya dapat mereka cetuskan, khususnya karya tulis yang nantinya dapat dilihat oleh orang banyak.

Bukan hanya itu, email dan blog juga memungkinkan murid dan guru menjadi lebih dekat, dan dengan email dan blog, guru tetap bisa memberikan pelajaran atau pengajaran kepada si murid walaupun murid dan guru terpisah jauh.

Dari fenomena pendidikan di Indonesia khususnya Medan, penggunaan email dan blog dalam proses pembelajaran belum terlihat jelas, masih banyak media-media pendidikan yang belum mempergunakan email atau blog sebagai sarana utama atau tambahan untuk perkembangan kegiatan belajar-mengajar mereka.


Sumber : Santrock J. W. (2008). Psikologi Pendidikan. Edisi kedua. Jakarta : Prenada Media Group.

Educational Psychology-2

| | 0 komentar

Teknologi dan Pendidikan


Kita ketahui bahwa pada masa kini, teknologi sangat berperan penting dalam dunia pendidikan, khususnya sebagai penyedia informasi terbuka serta fasilitator kita dalam persiapan di dunia kerja. Dan seiring berjalannya waktu teknologi tersebut telah melalui perkembangan dan pembaharuan menjadi kearah yang lebih terperinci lagi. Namun dalam pengembangannya di dunia pendidikan, khususnya di negara ini, Indonesia, diketahui bahwa terdapat banyak kendala yang menjadikan teknologi kurang mendapat perhatian penting dalam beberapa seginya.
Yang menjadi pertanyaan adalah apa saja yang menjadi faktor timbulnya hal tersebut? Dan bagaimana peran psikolog dalam meringankan permasalahan tersebut?

Menurut saya, hal ini dapat terjadi karena kurangnya pengetahuan dasar (misalnya dengan cara penyuluhan) mengenai perlunya teknologi untuk masa depan bagi generasi pembelajar, yang tentunya sudah menjadi kewajiban guru pembimbing untuk menstimulinya.
Dan alasan lain ialah karena warga negara Indonesia sebagian besar penduduknya masih sarat dengan kemiskinan dan keterpurukan sosial.
Peran yang dapat psikolog lakukan adalah dengan membantu para guru memberikan penyuluhan terbuka  mengenai pentingnya teknologi di sekolah-sekolah dan memberiakan motivasi yang membangun kepercayaan diri warga-warga yang kurang mampu dalam memajukan wawasan mereka.


sumber : Psikologi Pendidikan,John W. Santrock, edisi kedua.

Educational Psychology-1

| | 0 komentar

Dalam teorinya, yakni salah satunya Cara Mengajar yang Efektif, dinyatakan bahwa terdapat dua hal utama yang selayaknya dimiliki seorang pengajar yakni, (1) pengetahuan dan keahlian profesional, yang berupa penguasaan materi pelajaran, strategi pengajaran, penetapan tujuan dan perencanaan instruksional, keahlian manajemen kelas, keahlian motivasional, keahlian komunikasi maupun teknologi,  dan (2) komitmen dan motivasi.

Namun dari dua hal tersebut, timbul pertanyaan mengenai strategi pengajaran yaitu, 
Apa makna khusus dan penjelasan rinci tentang Konstruktivisme ? 


Konstruktivisme merupakan proses pembelajaran yang menerangkan bagaimana pengetahuan disusun dalam pikiran manusia. Unsur-unsur konstruktivisme telah lama dipraktikkan dalam kaedah pengajaran dan pembelajaran di tingkat sekolah dan universitas tetapi tidak begitu terlihat dan tidak ditekankan. Menurut paham konstruktivisme, ilmu pengetahuan sekolah tidak boleh dipindahkan dari guru kepada murid dalam bentuk yang serba sempurna. Murid perlu dibina suatu pengetahuan seperti pengalaman masing-masing. Pembelajaran adalah hasil daripada usaha murid itu sendiri dan guru tidak boleh belajar untuk murid. Realita yang diketahui murid adalah realita yang dia bina sendiri. Murid sebenarnya telah mempunyai satu set ide dan pengalaman yang membentuk struktur kognitif terhadap diri mereka.
Untuk membantu murid membina konsep atau pengetahuan baru, guru harus mengolah struktur kognitif yang tersedia pada diri mereka. Apabila pengetahuan baru telah disesuaikan dan diserap untuk dijadikan sebagai pegangan kuat mereka, barulah kerangka baru tentang sesuatu bentuk ilmu pengetahuan dapat dibina. Proses ini dinamakan konstruktivisme.

Beberapa ahli konstruktivisme yang terkemuka berpendapat bahwa pembelajaran yang bermakna itu bermula dengan pengetahuan atau pengalaman setiap murid. Dalam kelas konstruktivis seorang guru tidak mengajarkan kepada anak bagaimana menyelesaikan persoalan, namun mempresentasikan masalah dan mendorong siswa untuk menemukan cara mereka sendiri dalam menyelesaikan permasalahan. Selain itu , para siswa diberdayakan oleh pengetahuan yang berada dalam diri mereka. Mereka berbagi strategi dan penyelesaian, debat antar satu dengan lainnya, berfikir secara kritis tentang cara terbaik untuk menyelesaikan setiap masalah.


bahan bacaan : Psikologi Pendidikan,, John W. Santrock, edisi kedua.
                          http://andrie-dedi.blogspot.com/2010/05/pengertian-pendekatan-pembelajaran.html